By: kompas,
WALUPUN relatif tak ada perubahan yang drastis pada desain mebel luar ruang, sebenarnya dari waktu ke waktu desain mebel luar ruang pun mengalami perubahan. Dari sisi bahan baku, misalnya, kalau dulu hanya dikenal kayu seutuhnya, kini-meski tetap berbahan baku kayu-sudah dipadukan dengan beberapa elemen bahan lainnya.
DEDI Wirawan, Manajer Umum PT Kurnia Jati Utama Indonesia, mengatakan, perubahan desain mebel luar ruang dengan memanfaatkan elemen bahan lainnya tak dapat dihindarkan karena ini juga berarti menghemat bahan baku kayunya.
Produknya antara lain memadukan mebel luar ruang dengan bahan lain, seperti besi untuk kerangkanya, kain untuk dudukan dan sandaran kursi, kuningan, dan stainless steel.
“Mebel luar ruang produksi kami yang desainnya dipadu dengan bahan lain di samping kayu hanya sekitar lima persen. Itu pun sebenarnya lebih banyak karena permintaan para pembeli. Terakhir ini kami membuat mebel kayu yang dipadukan dengan kain nilon. Oleh karena mebel luar ruang ini merupakan pesanan, jadi kain nilonnya dipasok oleh pembeli,” tutur Dedi menjelaskan.
Perubahan pada desain mebel luar ruang produknya lebih banyak terletak pada detailnya saja, misalnya berbeda di bagian sandarannya, pegangan tangan, kaki kursi, atau cara penyambungannya.
“Mebel outdoor umumnya hanya terdiri dari kursi dan meja taman, kursi panjang untuk berjemur di kolam renang, dan garden tile atau jalan setapak untuk taman yang terbuat dari potongan kayu kecil-kecil,” kata Dedi menambahkan.
Sebagian mebel luar ruang produk PT Kurnia Jati Utama Indonesia pun desainnya disesuaikan dengan gambar yang diminta pemesannya. “Untuk desain order seperti ini kami tidak mungkin menjualnya ke pasar dalam negeri atau memperbanyak untuk diekspor sendiri. Kami membuat mebel sesuai dengan pesanan saja, karena desain itu hak paten mereka,” ujar Dedi.
Adapun untuk mebel yang didesain sendiri oleh pihaknya, Dedi mengaku banyak mendapat ide dari majalah furnitur dan interior, serta melihat berbagai bentuk mebel saat dia mengunjungi pameran-pameran.
JIKA PT Kurnia Jati Utama Indonesia mengalami kendala pasokan bahan baku kayu jati, tidak demikian dengan CV Golden Teak Garden, yang juga eksportir mebel luar ruang. Chandra, Presiden Direktur CV Golden Teak Garden, mengatakan, dia mengandalkan para perajin Jepara untuk menyuplai mebel jadi yang akan diekspor.
“Kami tidak menangani soal bahan baku kayu jati. Itu urusan setiap perajin, dan selama ini mereka relatif tidak mengeluh kekurangan bahan baku. Kami sebatas pesan mebel untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri,” jelas Chandra.
Oleh karena itu, sejak awal Chandra selalu menjelaskan kepada para pembeli produknya bahwa dia tak bisa menjamin desain mebel pesanan mereka tidak diperbanyak oleh perajin- meskipun dia sebenarnya telah memesan agar perajin membuat mebel terbatas sesuai dengan jumlah pesanan saja.
“Kami pernah dikomplain di Jerman, dinilai meniru desain mebel yang telah mereka patenkan, yaitu kursi taman. Padahal, model tersebut sudah umum dibuat di Jepara sejak lama. Untuk membedakannya, kami membuat desain sendiri agar produk tersebut tidak sama dengan desain yang telah mereka patenkan,” kata Chandra.
Sementara Hans Poerwanto, Direktur Prestige Furniture di Yogyakarta, antara lain menggabungkan kayu dan alumunium untuk meminimalkan penggunaan bahan baku kayu jati. Alumunium khususnya digunakan untuk rangka utama mebelnya. Penggantian ini dilakukan karena aluminium lebih mudah dicari daripada kayu jati.
“Biasanya untuk rangka utama dengan bentuk melengkung yang menghabiskan kayu dalam jumlah besar diganti dengan aluminium. Harapannya, agar usaha ini masih bisa lebih panjang umurnya,” kata Hans yang biasanya merancang sendiri desain mebel produk Prestige Furniture.
Dia mensyaratkan desain mebel luar ruangnya berkonstruksi kuat, fungsional, indah, dan ergonomik sehingga nyaman diduduki. Desain mebel luar ruangnya dibuat sederhana sehingga tidak makan banyak tempat, dan diciptakan dengan sistem knock down atau bongkar pasang.
“Sistem bongkar pasangnya dibuat sesederhana mungkin sehingga ibu-ibu rumah tangga pun bisa membongkar dan memasang kursi atau meja outdoor itu,” ujar Mike Thomasius, asisten desain Prestige Furniture, yang juga berusaha membuat produknya seringan mungkin.
WARNA pada mebel luar ruang umumnya cenderung menggunakan warna-warna alami kayu, hanya aluminium, besi, plastik, atau kain kanvasnya saja yang diberi pewarna. Penggunaan warna alami kayu ini didasarkan pada survei pasar yang hingga kini tampaknya masih menyukai warna-warna alami.
Setiap bulannya Hans, umpamanya, rata-rata mengadakan perubahan dua desain mebel luar ruang, baik merupakan penciptaan desain baru maupun penyempurnaan produk lama semata. “Umur desain-desain mebel outdoor mampu bertahan lama, yakni sekitar lima tahun. Kita ini kan mass product sehingga perubahan dan penciptaan desainnya tidak terlalu cepat,” kata Mike Thomasius yang mengaku mendapatkan ide desainnya dari berbagai majalah ini.
Beberapa penciptaan desain itu antara lain kursi yang biasa digunakan untuk berjemur dan biasa diletakkan dekat kolam renang, yang dulunya dibuat “mati” atau fixed, kini menjadi fleksibel dengan sandaran punggung yang bisa diubah sesuai dengan keinginan penggunanya.
Selain itu, ada pula sistem penguncian baru terhadap kursi yang bisa dilipat. Ini, kata Mike, lebih dimaksudkan untuk keamanan penggunanya.
Sedangkan PT Aneka Unitop Bekasi, menurut manajer pemasarannya, Asep Suryatna, mengolah desain mebel luar ruangnya lewat penyelesaian yang simpel atau dengan teak oil. “Furnitur dari kayu untuk luar ruangan itu tidak kenal kata kuno, tinggal bagaimana kita mengolahnya, bisa dipadu dengan kain kanvas, besi atau alumunium,” ujarnya.
Perusahaan yang mengekspor semua produknya ini bekerja berdasarkan desain pesanan pembeli. Mereka memang memiliki brosur sebagai contoh model mebel yang mereka produksi, dan menyebut penggunaan kayu nyatoh sebagai salah satu cirinya. Mebel dari kayu nyatoh yang diberi sentuhan teak oil dibuat dalam beragam bentuk, seperti kursi, meja, dan kursi lipat.
Sementara produk PT Subadiya Prima lebih beragam lagi. BS Tjahjono, pemiliknya, memadukan kayu tidak hanya dengan kain terpal saja, tetapi juga dengan rotan dan batu. “Salah satu kelebihan perajin Indonesia adalah cepat mengadopsi desain baru. Kami bisa membuat apa saja, dengan beragam cara finishing serta paduan, dan hasilnya tetap luwes,” tuturnya menambahkan. (J09/ELN/IKA/CP)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/19/furnitur/1212310.htm